Rabu, 11 Desember 2013

Kasus KLB


KASUS
     LAPORAN INVESTIGASI KLB KERACUNAN PANGAN
DI SDN 1 TANGEBAN DESA TANGEBAN KECAMATAN MASAMA KABUPATEN BANGGAI
01 OKTOBER 2011
Tim Investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai

Salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan di Indonesia adalah penyakit yang disebabkan oleh pangan. Pangan merupakan jalur utama penyebaran patogen dan toksin yang diproduksi oleh mikroba patogen. Pangan juga dapat menimbulkan masalah serius jika mengandung racun akibat cemaran kimia, bahan berbahaya maupun racun alami yang terkandung dalam pangan, yang sebagian diantaranya menimbulkan KLB keracunan pangan.
Beberapa laporan keracunan pangan yang terjadi sebelumnya di Kabupaten Banggai, sebagian besar disebabkan karena kesalahan dalam proses pengolahan sehingga terkontaminasi bakteri (kuman) dan umumnya diderita oleh anak sekolah
KLB keracunan pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala-gejala yang sama atau hampir sama setelah mengkonsumsi sesuatu dan berdasarkan analisis epidemiologi terbukti makanan tersebut sumber keracunan.
Pada tanggal 01 Oktober 2011 Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai menerima laporan Puskesmas Tangeban bahwa telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di Desa Tangeban yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tangeban. Jumlah penderita sebanyak 160 orang tanpa disertai kasus kematian (CFR = 0 %), dengan gejala mual, muntah, sakit perut dan pusing. Semua kasus telah mendapatkan pengobatan dan 32 orang diantaranya rawat inap di Puskesmas.
Dari hasil investigasi diketahui bahwa semua kasus mengkonsumsi nasi kuning dan hanya beberapa anak yang mengkonsumsi makanan lainnya (snack) dan minum dari beberapa sumber air minum diantaranya air kantin dan air minum sekolah sehingga besar dugaan penyebab keracunan adalah nasi kuning. Di ketahui pula bahwa terdapat dua kantin yang menjual nasi kuning namun hanya anak yang makan disalah satu kantin tersebut yang menderita gejala keracunan.
Jumlah siswa SDN I Tangeban adalah 347 siswa (AR =5,76%), CFR = 0% dan saat investigasi dilakukan semua kasus sementara mendapat pengobatan dan perawatan di Puskesmas Tangeban.
 Hasil Penyelidikan
A.    Wawancara dan Pemeriksaan Kasus
Dari investigasi dan wawancara dengan Ny. Nurhana diketahui bahwa proses pengolahan Nasi Kuning adalah sebagai berikut :
1.      Pengolahan Bumbu
Pengolahan bumbu dimulai jam 06.30 sore, Bahan sambal meliputi bawang merah, bawang putih dan tomat ditumbuk setelah halus ditambahkan dengan rica keriting yang telah diblender 3 hari yang lalu (sebelumnya disimpan dalam kulkas) dan disimpan ditempat palung batu dan ditutup piring
Bahan campuran lainnya adalah ikan pupuh (ikan asap), ikan kaleng yang merupakan sisa dari hari sebelumnya karena tidak habis disimpan di kulkas
Semua bahan tersebut dimasak jam 04.50, pagi.
2.      Pengolahan Beras
Beras dan santan dimasak bersama kunyit mulai jam 06.00 sore dan masih setengah matang disimpan dalam panci kukusan aluminium dan dimasak kembali jam 04.30 pagi.
Bahan nasi kuning lainnya meliputi : kunyit, santan, garam, gula pasir, penyedap rasa (miwon) dan laksa dan mie
Nasi kuning di bungkus pada jam 06.00 pagi dan dibawa ke kantin sekolah, dari hasil investigasi diketahui pula bahwa suami ibu Nurhana yang mengkonsumsi nasi kuning tersebut ternyata juga mengeluh sakit perut dan muntah.
Lingkungan pengolahan Nasi Kuning dianggap kurang memenuhi syarat kesehatan dimana sumur terletak di dapur yang cukup berdekatan dengan septi tank, begitu pula kamar mandi dan tempat cuci yang bersebelahan dan terletak didapur.
Berdasarkan wawancara petugas kesehatan dan pemeriksaan fisik penderita, maka gambaran klinis kasus-kasus adalah sebagai berikut : sakit perut, mual, muntah, sakit kepala, pusing, dan diare. Dengan membandingkan kedua hasil wawancara (pengolah makanan dan petugas kesehatan termasuk pemeriksaan kepada penderita) dan mengingat masa paparan dan inkubasi maka diperkirakan etiologi keracunan berdasarkan wawancara tersebut adalah kuman bakteri : Baccilur cereus, Staphylococcus, dan Vibrio parahaemolyticus.
Baccilur cereus menunjukan gejala nyeri perut, mual, muntah, dan kadang diare. Staphylococcus aereus menunjukan gejala mual, muntah, sakit perut, diare dan prostration (muntah menyembur). Vibrio hemolitikus menunjukan gejala nyeri perut, mual muntah, diare, menggigil, sakit kepala, dan kadang-kadang badan panas (demam).

  1. Jumlah Korban
Adapun jumlah korban dalam kasus keracunan makanan ini adalah sebanyak 160 orang.

  1. Jenis Makanan
Adapun jenis makanan yang dikonsumsi oleh siswa yang mengalami keracunan makanan, yaitu :
1.      Bahan nasi kuning
 meliputi : Nasi, kunyit, santan, garam, gula pasir, penyedap rasa (miwon), ,Laksa dan Mie
2.      Ikan kaleng
3.      Ikan pupuh

  1. Gejala Yang Ditimbulkan
Gajala yang ditimbulkan oleh Siswa yang mengalami keracunan makanan setelah mengkonsumsi bingkisan makanan atau “Nasi Kuning” yaitu berupa :
1.      Mual
2.      Muntah
3.      Diare
4.      Nyeri perut / sakit Perut
5.      Sakit Kepala

  1. Masa Inkubasi
Siswa makan  pada pukul  07.30 dan berakhir pada jam 08.30 Wita, jadi masa inkubasi adalah 1 jam.

Kasus KLB


KASUS
     LAPORAN INVESTIGASI KLB KERACUNAN PANGAN
DI SDN 1 TANGEBAN DESA TANGEBAN KECAMATAN MASAMA KABUPATEN BANGGAI
01 OKTOBER 2011
Tim Investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai

Salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan di Indonesia adalah penyakit yang disebabkan oleh pangan. Pangan merupakan jalur utama penyebaran patogen dan toksin yang diproduksi oleh mikroba patogen. Pangan juga dapat menimbulkan masalah serius jika mengandung racun akibat cemaran kimia, bahan berbahaya maupun racun alami yang terkandung dalam pangan, yang sebagian diantaranya menimbulkan KLB keracunan pangan.
Beberapa laporan keracunan pangan yang terjadi sebelumnya di Kabupaten Banggai, sebagian besar disebabkan karena kesalahan dalam proses pengolahan sehingga terkontaminasi bakteri (kuman) dan umumnya diderita oleh anak sekolah
KLB keracunan pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala-gejala yang sama atau hampir sama setelah mengkonsumsi sesuatu dan berdasarkan analisis epidemiologi terbukti makanan tersebut sumber keracunan.
Pada tanggal 01 Oktober 2011 Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai menerima laporan Puskesmas Tangeban bahwa telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di Desa Tangeban yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tangeban. Jumlah penderita sebanyak 160 orang tanpa disertai kasus kematian (CFR = 0 %), dengan gejala mual, muntah, sakit perut dan pusing. Semua kasus telah mendapatkan pengobatan dan 32 orang diantaranya rawat inap di Puskesmas.
Dari hasil investigasi diketahui bahwa semua kasus mengkonsumsi nasi kuning dan hanya beberapa anak yang mengkonsumsi makanan lainnya (snack) dan minum dari beberapa sumber air minum diantaranya air kantin dan air minum sekolah sehingga besar dugaan penyebab keracunan adalah nasi kuning. Di ketahui pula bahwa terdapat dua kantin yang menjual nasi kuning namun hanya anak yang makan disalah satu kantin tersebut yang menderita gejala keracunan.
Jumlah siswa SDN I Tangeban adalah 347 siswa (AR =5,76%), CFR = 0% dan saat investigasi dilakukan semua kasus sementara mendapat pengobatan dan perawatan di Puskesmas Tangeban.
 Hasil Penyelidikan
A.    Wawancara dan Pemeriksaan Kasus
Dari investigasi dan wawancara dengan Ny. Nurhana diketahui bahwa proses pengolahan Nasi Kuning adalah sebagai berikut :
1.      Pengolahan Bumbu
Pengolahan bumbu dimulai jam 06.30 sore, Bahan sambal meliputi bawang merah, bawang putih dan tomat ditumbuk setelah halus ditambahkan dengan rica keriting yang telah diblender 3 hari yang lalu (sebelumnya disimpan dalam kulkas) dan disimpan ditempat palung batu dan ditutup piring
Bahan campuran lainnya adalah ikan pupuh (ikan asap), ikan kaleng yang merupakan sisa dari hari sebelumnya karena tidak habis disimpan di kulkas
Semua bahan tersebut dimasak jam 04.50, pagi.
2.      Pengolahan Beras
Beras dan santan dimasak bersama kunyit mulai jam 06.00 sore dan masih setengah matang disimpan dalam panci kukusan aluminium dan dimasak kembali jam 04.30 pagi.
Bahan nasi kuning lainnya meliputi : kunyit, santan, garam, gula pasir, penyedap rasa (miwon) dan laksa dan mie
Nasi kuning di bungkus pada jam 06.00 pagi dan dibawa ke kantin sekolah, dari hasil investigasi diketahui pula bahwa suami ibu Nurhana yang mengkonsumsi nasi kuning tersebut ternyata juga mengeluh sakit perut dan muntah.
Lingkungan pengolahan Nasi Kuning dianggap kurang memenuhi syarat kesehatan dimana sumur terletak di dapur yang cukup berdekatan dengan septi tank, begitu pula kamar mandi dan tempat cuci yang bersebelahan dan terletak didapur.
Berdasarkan wawancara petugas kesehatan dan pemeriksaan fisik penderita, maka gambaran klinis kasus-kasus adalah sebagai berikut : sakit perut, mual, muntah, sakit kepala, pusing, dan diare. Dengan membandingkan kedua hasil wawancara (pengolah makanan dan petugas kesehatan termasuk pemeriksaan kepada penderita) dan mengingat masa paparan dan inkubasi maka diperkirakan etiologi keracunan berdasarkan wawancara tersebut adalah kuman bakteri : Baccilur cereus, Staphylococcus, dan Vibrio parahaemolyticus.
Baccilur cereus menunjukan gejala nyeri perut, mual, muntah, dan kadang diare. Staphylococcus aereus menunjukan gejala mual, muntah, sakit perut, diare dan prostration (muntah menyembur). Vibrio hemolitikus menunjukan gejala nyeri perut, mual muntah, diare, menggigil, sakit kepala, dan kadang-kadang badan panas (demam).

  1. Jumlah Korban
Adapun jumlah korban dalam kasus keracunan makanan ini adalah sebanyak 160 orang.

  1. Jenis Makanan
Adapun jenis makanan yang dikonsumsi oleh siswa yang mengalami keracunan makanan, yaitu :
1.      Bahan nasi kuning
 meliputi : Nasi, kunyit, santan, garam, gula pasir, penyedap rasa (miwon), ,Laksa dan Mie
2.      Ikan kaleng
3.      Ikan pupuh

  1. Gejala Yang Ditimbulkan
Gajala yang ditimbulkan oleh Siswa yang mengalami keracunan makanan setelah mengkonsumsi bingkisan makanan atau “Nasi Kuning” yaitu berupa :
1.      Mual
2.      Muntah
3.      Diare
4.      Nyeri perut / sakit Perut
5.      Sakit Kepala

  1. Masa Inkubasi
Siswa makan  pada pukul  07.30 dan berakhir pada jam 08.30 Wita, jadi masa inkubasi adalah 1 jam.

Kasus KLB


KASUS
     LAPORAN INVESTIGASI KLB KERACUNAN PANGAN
DI SDN 1 TANGEBAN DESA TANGEBAN KECAMATAN MASAMA KABUPATEN BANGGAI
01 OKTOBER 2011
Tim Investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai

Salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan di Indonesia adalah penyakit yang disebabkan oleh pangan. Pangan merupakan jalur utama penyebaran patogen dan toksin yang diproduksi oleh mikroba patogen. Pangan juga dapat menimbulkan masalah serius jika mengandung racun akibat cemaran kimia, bahan berbahaya maupun racun alami yang terkandung dalam pangan, yang sebagian diantaranya menimbulkan KLB keracunan pangan.
Beberapa laporan keracunan pangan yang terjadi sebelumnya di Kabupaten Banggai, sebagian besar disebabkan karena kesalahan dalam proses pengolahan sehingga terkontaminasi bakteri (kuman) dan umumnya diderita oleh anak sekolah
KLB keracunan pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala-gejala yang sama atau hampir sama setelah mengkonsumsi sesuatu dan berdasarkan analisis epidemiologi terbukti makanan tersebut sumber keracunan.
Pada tanggal 01 Oktober 2011 Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai menerima laporan Puskesmas Tangeban bahwa telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di Desa Tangeban yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tangeban. Jumlah penderita sebanyak 160 orang tanpa disertai kasus kematian (CFR = 0 %), dengan gejala mual, muntah, sakit perut dan pusing. Semua kasus telah mendapatkan pengobatan dan 32 orang diantaranya rawat inap di Puskesmas.
Dari hasil investigasi diketahui bahwa semua kasus mengkonsumsi nasi kuning dan hanya beberapa anak yang mengkonsumsi makanan lainnya (snack) dan minum dari beberapa sumber air minum diantaranya air kantin dan air minum sekolah sehingga besar dugaan penyebab keracunan adalah nasi kuning. Di ketahui pula bahwa terdapat dua kantin yang menjual nasi kuning namun hanya anak yang makan disalah satu kantin tersebut yang menderita gejala keracunan.
Jumlah siswa SDN I Tangeban adalah 347 siswa (AR =5,76%), CFR = 0% dan saat investigasi dilakukan semua kasus sementara mendapat pengobatan dan perawatan di Puskesmas Tangeban.
 Hasil Penyelidikan
A.    Wawancara dan Pemeriksaan Kasus
Dari investigasi dan wawancara dengan Ny. Nurhana diketahui bahwa proses pengolahan Nasi Kuning adalah sebagai berikut :
1.      Pengolahan Bumbu
Pengolahan bumbu dimulai jam 06.30 sore, Bahan sambal meliputi bawang merah, bawang putih dan tomat ditumbuk setelah halus ditambahkan dengan rica keriting yang telah diblender 3 hari yang lalu (sebelumnya disimpan dalam kulkas) dan disimpan ditempat palung batu dan ditutup piring
Bahan campuran lainnya adalah ikan pupuh (ikan asap), ikan kaleng yang merupakan sisa dari hari sebelumnya karena tidak habis disimpan di kulkas
Semua bahan tersebut dimasak jam 04.50, pagi.
2.      Pengolahan Beras
Beras dan santan dimasak bersama kunyit mulai jam 06.00 sore dan masih setengah matang disimpan dalam panci kukusan aluminium dan dimasak kembali jam 04.30 pagi.
Bahan nasi kuning lainnya meliputi : kunyit, santan, garam, gula pasir, penyedap rasa (miwon) dan laksa dan mie
Nasi kuning di bungkus pada jam 06.00 pagi dan dibawa ke kantin sekolah, dari hasil investigasi diketahui pula bahwa suami ibu Nurhana yang mengkonsumsi nasi kuning tersebut ternyata juga mengeluh sakit perut dan muntah.
Lingkungan pengolahan Nasi Kuning dianggap kurang memenuhi syarat kesehatan dimana sumur terletak di dapur yang cukup berdekatan dengan septi tank, begitu pula kamar mandi dan tempat cuci yang bersebelahan dan terletak didapur.
Berdasarkan wawancara petugas kesehatan dan pemeriksaan fisik penderita, maka gambaran klinis kasus-kasus adalah sebagai berikut : sakit perut, mual, muntah, sakit kepala, pusing, dan diare. Dengan membandingkan kedua hasil wawancara (pengolah makanan dan petugas kesehatan termasuk pemeriksaan kepada penderita) dan mengingat masa paparan dan inkubasi maka diperkirakan etiologi keracunan berdasarkan wawancara tersebut adalah kuman bakteri : Baccilur cereus, Staphylococcus, dan Vibrio parahaemolyticus.
Baccilur cereus menunjukan gejala nyeri perut, mual, muntah, dan kadang diare. Staphylococcus aereus menunjukan gejala mual, muntah, sakit perut, diare dan prostration (muntah menyembur). Vibrio hemolitikus menunjukan gejala nyeri perut, mual muntah, diare, menggigil, sakit kepala, dan kadang-kadang badan panas (demam).

  1. Jumlah Korban
Adapun jumlah korban dalam kasus keracunan makanan ini adalah sebanyak 160 orang.

  1. Jenis Makanan
Adapun jenis makanan yang dikonsumsi oleh siswa yang mengalami keracunan makanan, yaitu :
1.      Bahan nasi kuning
 meliputi : Nasi, kunyit, santan, garam, gula pasir, penyedap rasa (miwon), ,Laksa dan Mie
2.      Ikan kaleng
3.      Ikan pupuh

  1. Gejala Yang Ditimbulkan
Gajala yang ditimbulkan oleh Siswa yang mengalami keracunan makanan setelah mengkonsumsi bingkisan makanan atau “Nasi Kuning” yaitu berupa :
1.      Mual
2.      Muntah
3.      Diare
4.      Nyeri perut / sakit Perut
5.      Sakit Kepala

  1. Masa Inkubasi
Siswa makan  pada pukul  07.30 dan berakhir pada jam 08.30 Wita, jadi masa inkubasi adalah 1 jam.