KASUS
LAPORAN
INVESTIGASI KLB KERACUNAN PANGAN
DI SDN 1 TANGEBAN DESA
TANGEBAN KECAMATAN MASAMA KABUPATEN BANGGAI
01 OKTOBER 2011
Tim Investigasi Dinas
Kesehatan Kabupaten Banggai
Salah satu penyebab utama kematian dan
kesakitan di Indonesia adalah penyakit yang disebabkan oleh pangan. Pangan
merupakan jalur utama penyebaran patogen dan toksin yang diproduksi oleh
mikroba patogen. Pangan juga dapat menimbulkan masalah serius jika mengandung
racun akibat cemaran kimia, bahan berbahaya maupun racun alami yang terkandung
dalam pangan, yang sebagian diantaranya menimbulkan KLB keracunan pangan.
Beberapa laporan keracunan pangan yang
terjadi sebelumnya di Kabupaten Banggai, sebagian besar disebabkan karena
kesalahan dalam proses pengolahan sehingga terkontaminasi bakteri (kuman) dan
umumnya diderita oleh anak sekolah
KLB keracunan pangan adalah suatu
kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan
gejala-gejala yang sama atau hampir sama setelah mengkonsumsi sesuatu dan
berdasarkan analisis epidemiologi terbukti makanan tersebut sumber keracunan.
Pada tanggal 01 Oktober 2011 Dinas
Kesehatan Kabupaten Banggai menerima laporan Puskesmas Tangeban bahwa telah
terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di Desa Tangeban yang merupakan
wilayah kerja Puskesmas Tangeban. Jumlah penderita sebanyak 160 orang tanpa
disertai kasus kematian (CFR = 0 %), dengan gejala mual, muntah, sakit perut
dan pusing. Semua kasus telah mendapatkan pengobatan dan 32 orang diantaranya
rawat inap di Puskesmas.
Dari hasil investigasi diketahui bahwa
semua kasus mengkonsumsi nasi kuning dan hanya beberapa anak yang mengkonsumsi
makanan lainnya (snack) dan minum dari beberapa sumber air minum diantaranya
air kantin dan air minum sekolah sehingga besar dugaan penyebab keracunan
adalah nasi kuning. Di ketahui pula bahwa terdapat dua kantin yang menjual nasi
kuning namun hanya anak yang makan disalah satu kantin tersebut yang menderita
gejala keracunan.
Jumlah siswa SDN I Tangeban adalah 347
siswa (AR =5,76%), CFR = 0% dan saat investigasi dilakukan semua kasus
sementara mendapat pengobatan dan perawatan di Puskesmas Tangeban.
Hasil
Penyelidikan
A. Wawancara
dan Pemeriksaan Kasus
Dari
investigasi dan wawancara dengan Ny. Nurhana diketahui bahwa proses pengolahan
Nasi Kuning adalah sebagai berikut :
1. Pengolahan
Bumbu
Pengolahan
bumbu dimulai jam 06.30 sore, Bahan sambal meliputi bawang merah, bawang putih
dan tomat ditumbuk setelah halus ditambahkan dengan rica keriting yang telah
diblender 3 hari yang lalu (sebelumnya disimpan dalam kulkas) dan disimpan
ditempat palung batu dan ditutup piring
Bahan
campuran lainnya adalah ikan pupuh (ikan
asap), ikan kaleng yang merupakan sisa dari hari sebelumnya karena tidak
habis disimpan di kulkas
Semua
bahan tersebut dimasak jam 04.50, pagi.
2. Pengolahan
Beras
Beras
dan santan dimasak bersama kunyit mulai jam 06.00 sore dan masih setengah
matang disimpan dalam panci kukusan aluminium dan dimasak kembali jam 04.30
pagi.
Bahan nasi kuning lainnya meliputi : kunyit, santan,
garam, gula pasir, penyedap rasa (miwon) dan laksa dan mie
Nasi
kuning di bungkus pada jam 06.00 pagi dan dibawa ke kantin sekolah, dari hasil
investigasi diketahui pula bahwa suami ibu Nurhana yang mengkonsumsi nasi
kuning tersebut ternyata juga mengeluh sakit perut dan muntah.
Lingkungan
pengolahan Nasi Kuning dianggap kurang memenuhi syarat kesehatan dimana sumur
terletak di dapur yang cukup berdekatan dengan septi tank, begitu pula kamar
mandi dan tempat cuci yang bersebelahan dan terletak didapur.
Berdasarkan wawancara petugas kesehatan
dan pemeriksaan fisik penderita, maka gambaran klinis kasus-kasus adalah
sebagai berikut : sakit perut, mual, muntah, sakit kepala, pusing, dan diare.
Dengan membandingkan kedua hasil wawancara (pengolah makanan dan petugas kesehatan
termasuk pemeriksaan kepada penderita) dan mengingat masa paparan dan inkubasi
maka diperkirakan etiologi keracunan berdasarkan wawancara tersebut adalah
kuman bakteri : Baccilur cereus, Staphylococcus, dan Vibrio parahaemolyticus.
Baccilur cereus menunjukan gejala nyeri
perut, mual, muntah, dan kadang diare. Staphylococcus aereus menunjukan gejala
mual, muntah, sakit perut, diare dan prostration (muntah menyembur). Vibrio
hemolitikus menunjukan gejala nyeri perut, mual muntah, diare, menggigil, sakit
kepala, dan kadang-kadang badan panas (demam).
- Jumlah Korban
Adapun
jumlah korban dalam kasus keracunan makanan ini adalah sebanyak 160 orang.
- Jenis Makanan
Adapun
jenis makanan yang dikonsumsi oleh siswa yang mengalami keracunan makanan,
yaitu :
1. Bahan
nasi kuning
meliputi : Nasi, kunyit, santan, garam, gula pasir, penyedap rasa (miwon), ,Laksa dan Mie
2.
Ikan
kaleng
3.
Ikan
pupuh
- Gejala Yang Ditimbulkan
Gajala
yang ditimbulkan oleh Siswa yang mengalami keracunan makanan setelah
mengkonsumsi bingkisan makanan atau “Nasi
Kuning” yaitu berupa :
1. Mual
2. Muntah
3. Diare
4. Nyeri perut / sakit Perut
5. Sakit Kepala
- Masa Inkubasi
Siswa
makan pada pukul 07.30 dan berakhir pada jam 08.30 Wita, jadi
masa inkubasi adalah 1 jam.